Profile


Early Live
Akhir bulan Januari di sebuah desa kecil di Boyolali, dia lahir tanpa ditemani sang Bapak yang sedang merantau mencari nafkah di Bandung, belakangan ia tahu ternyata Bapak sempat terjatuh saat menjadi buruh bangungan. Anak laki-laki yang ditunggu sang Ibu tercinta, ditemani dua kakak perempuan yang selalu menjaganya. Sempat bingung mencari nama untuk putra nya, sang Ibu bertanya pada Alm. Simbah Musa untuk dicarikan sebuah nama. Setelah dihitung tanggal lahirnya, simbah cuman berpesan namanya harus di mulai dengan huruf “ro” dari bahasa arab dan Alm. Simbah Maryam berpesan harus ada nama Muhammad sebagai penenger (pertanda) agama yang akan dianutnya. Akhirnya ibu memberi nama “Rosid” dan Alm. Paklek Komaidi menambahkan “Ridho” sebelum Bapak berangkat ke pencatatan sipil untuk pembuatan Akta. Belakangan baru diketahui bahwa nama lengkap ini juga milik seorang sastrawan mesir yang amat tersohor. Mungkin karena itu juga dosen Literature`nya, Pak Agung, sempat berkomentar, “udah ganti nama aja kamu itu biar cepet lulus.” ucapnya acuh saat mendaftar ujian Skripsi di ruang tata usaha. “Menungso kabotan jeneng” katanya sambil duduk dan mengunyah makanan.

Lahir pada akhir bulan Januari membuatnya menjadi pribadi Aquarius yang tidak terlalu suka banyak bericara, ia lebih suka berbuat sesuatu. Seperti nasehat sang Ibu, “You are not what you said, but you are what you do” menjadi sebuah prinsip yang ia pegang sampai sekarang. Tapi seperti dua buah mata pisau, karakternya tersebut bisa jadi sebuah kelebihan tetapi juga sekaligus menjadi kekurangannya. Karena sampai sekarang ia masih canggung ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal, maka ia akan sibuk mengumpulkan ide untuk mencari sebuah obrolan yang menyenangkan. Tapi selalu gagal, sampai sekarang.

Merantau ke Surabaya setelah gagal pada ujian masuk perguruan tinggi negeri merupakan sebuah langkah awal untuk dia belajar menjadi pria mandiri. Bulan pertama jauh dari orang tua adalah neraka, tapi dorongan kuat dari sang Bapak ketika mengantarkannya berangkat di stasiun adalah motivasi tersendiri, “Kamu ini laki-laki, kelak menjadi pemimpin untuk keluargamu. Maka kamu harus bisa mengatur dirimu sendiri.” Mengatur, mengelola, me-manage hidup di perantauan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Tapi juga menyenangkan. Liku-liku yang penuh tantangan dan pembelajaran.